CATHER
(Catatan
Heren)
I
Confuse....
“Cerah-cerah kayak gini...enaknya ngapain
yah?” tanya seorang gadis pada dirinya
sepulang sekolah dalam kamarnya setelah melepas tasnya dari kedua
bahunya. Setiba di rumah hatinya selalu merasa gelisah dan kedua telapak tangan
beriringan sepuluh jarinya serasa dingin. Kebiasaan penghuni rumah disiang hari
kurang lebih pukul dua belas tiga puluh ini adalah terlelap dalam tidur, begitu
pula seisi komplex sudah jarang ada yang terlihat, suasana siang seperti ini
terlihat bagitu tenangnya hanya saja cuaca yang panas. Hampir seluruh rumah di
sekitar komplex bernawan rupa megah dilindungi pepohonan tinggi yang hijau muda
cerah nampak rumah hijau terlihat elok dipandang. Namun ada salah satu rumah
cukup mewah bertingkat dua di sekitarnya dipenuhi denga pepohonan hijau yang
tinggu hampir setara atap rumahnya. Di atas lantai dua ada jendela kamar yang
sedang terbuka, gadis yang bergelisah hati menampakkan wajah dan sebagian atas
tubuhnya, pinggang hingga panggulnya tersembunyi oleh dinding jendela. Ia duduk
begitu asyiknya sambil memikirkan sesuatu, wajahnya terlihat sayup sambil
melambai-lambaikan kepalanya kiri ke kanan. Atau mungkin sedang berhayal...?
Hari ini, ia cepat pulang dari sekolah. Padahal jika siang
hari sekitar pukul tiga belas atau pukul empat belas sudah berada di rumah,
sudah pasti tempat tidur berukuran sedang warna pink itu menjadi tidak rapi
lagi sampai pukul tujuh belas, jika tempat tidur itu terisi sekitar pukul empat
belas. Dua atau tiga jam akan dihabiskannya beristirahat disiang hari...apa
tidak berlebihan, belum lagi saat tidur malam kira-kira berapa lama waktu yang
dibututhkan...? Diusia enam belasan maksimal waktu tidur yang dibutuhkan hanya
tujuh sampai delapan jam. Sekarang baru setengah dua belas, rasa ngantuk masih
jauh namun suasana komplex mulai akan kembali hening sama seperti malam hari.
Yang ada di bawah hanya....Heren menunduk ke bawah, hanya melihat seorang anak laki-laki sedang asyik
bermain kelereng. Apa adiknya juga masih belum bisa beristirahat disiang
hari...? Heren hanya tersenyum melihat
adiknya bermain tanpa teman bermain, kadang sekali-sekali Heren menemani
adiknya bermain apa saja seperti bermain kelereng tapi paling sering bermain
bulu tangkis bersama di taman kompelex tidak begitu jauh dari rumah, berolahraga
bersama teman-teman dan siapa saja yang datang di taman saat sore hari, atau
hanya sekedar duduk-duduk bersantai juga banyak. Bukannya Rafa, adik heren
satu-satunya ini tidak punya teman hanya saja Rafa lebih senang bermain bersama
kakak satu-satunya yang dimiliki dari pada bermain dengan orang lain, apalagi
saat bermain bulu tangkis pasti lebih sering bermain bersama sang kakak.
Tanpa ada
perubahan cuaca dari panas menjadi dingin, tiba-tiba leher Heren serasa
merinding, ia meraba leher bagian belakangnya dengan pelan sambil berfikir ada
apa dengan dirinya? Ia pun langsung ke tempat tidur untuk mencoba tidur. Tapi tetap
saja belum bisa seperti ada yang sedang sangat mengganjal dibenaknya. Ia
keluar dari kamar sambil melirik kanan
kiri, langkahnya pun dipelankan agar tidak ada bising yang terdengar. Selain
Rafa, juga ada mbok Sufi pembantu di keluarga Heren dan Pak Bani istri mbok
Sufi yang juga bekerja bersama istrinya dalam satu rumah. Dia bekerja apa saja
yang bisa dikerja dalam rumah, sebagai sopir papa, bisa menjadi satpam di
rumah, membersihkan halaman, atau apa saja yang
menurutnya bisa dikerja. Papa dan Mama sangat beruntung mempekerjakan
mereka karena mereka berdua sangat baik dan sudah sanga menjadi kepercayaan
dirumah, sehingga mereka dibuatkan rumah yang layak bersampingan dengan rumah.
Walau demikian mereka kerap kali masih tinggal di rumah, orang di rumah lebih
suka jika mereka tidak usah menginap di sebelah apalagi saat-saat seperti ini
dimana Mama Papa sedang tidak ada di rumah. Papa keluar kota bersama Mama..Mama
selalu menemani Papa setiap saat dalam menjalankan bisnisnya, seperti sekarang
ini Papa ada pertemuan di luar kota dan Mama juga ikut. Bukannya Mama sok
mengawasi tapi ini awal permintaan Papa juga karena kata Papa sih Lebih senang
bila ada Mama supaya prasangka-prasangka buruk tetap menjauhi Mama. Apa mama
orangnya cemburuan yah? Jauh sebelum ini, Mama baik-baik aja tuh, gak pernah
terlihat ada wajah sinis atau banyak tanya mengenai urusan bisnis Papa. Mungkin
Papa aja kali yah yang selalu butuh Mama....Perlahan langakah demi langkah
dilaluinya untuk sampai ke lantai satu,heren menuju ke dapur, semua terlihat
rapi mbok Sufi dan Pak Bani juga tidak ada, mungkin sedang dalam kamar
beristirahat. Ia membuka pintu kulkas dan melihat isinya mulai yang paling
teratas sampai ke bawah. Hampir persediaan isi kulkas kosong. Hanya ada
beberapa biskuit berkemasan ukuran kecil. Diambilnya dua bungkus berjalan
santai kembali ke kamar tidak seperti adegan seorang maling tadi. Sambil kembai
ke posisi awal duduk di jendela dengan papan yang cukup lebar untuk bersantap
cemilan. Sebungkus biskuit sudah dihabiskannya, ia mendengar bunyi mesin mobil
yang lazim didengarnya kepalanya melihat ke bawah, ada pak Bani yang umurnya
mulai lanjut sedang berlari pelan untuk membuka pintu gerbang rumah. Serta ada
Rafa yang menyusul. Yah, itu mobil Papa Heren pun langsung bergegas turun
menyambut orang tuanya. Rafa lebih dulu menghampiri orang tuanya dan memeluk
Mama, sedang Heren menyambut Papa dengan salam dan pelukan manis orang tuanya.
Mereka berempat saling berpasangan masuk ke dalam rumah, dan pak Bani memarkir
mobil di tempat garasi biasanya. “bentar
yah pa” pamit Heren bergegas pergi
ke kamarnya. Angguk Papa tersenyum. Belum cukup satu menit Heren pergi suara
mesin mobil kembali berderuh keras. Heren melihat keluar dari jendela kamar,
dalam mobil itu hanya Papa seorang diri “papa
mau ke mana lagi...? baru saja pulang, sudah keluar lagi...?” tanya Heren dalam benaknya. Heren bergegas ke
bawah “tok-tok tok” dua kali Heren
mengetuk pintu kamar orang tuanya, mendengar seruan-seruan suara ria, Heren
membuka pintu kamar dan mendapati Rafa dan Mama sedang asyik bercanda di atas
tempat tidur saat Heren nampak empat mata langsung menyorotnya. “papa mau ke mana, ma?” mendengar wajah anaknya yang penuh serius
bertanya, Mama hanya membalas dengan seutas senyum manis. “Rafa...Rafa.” terdengar
dari arah luar memanggil nama Rafa, Heren mencoba menegok tapi arah pintu
keluar tak nampak. Rafa bergegas turun
dari atas tempat tidur mengahampiri suara yang telah memanggilnya. Dengan
lambaian tangan kanan lembut dan senyum manis tanda mengajak putrinya masuk dan
duduk di sampingnya menggantikan Rafa. Tanpa bertanya lagi, Heren lalu masuk
dan menutup pintu kamar. Mulai akan mengambil posisi duduk nyaman bersama Mama,
“Itu, sedang ada urusan sebentar.” Lembut Mama.
“Jadi keluar lagi?” sambil sejenak Heren mengamati, “haa...” rileks Heren. Alis Mama naik ke atas mengamati
anaknya seolah bertanya ada apa. Heren tahu maksud ekspresi Mama, “memangnya Papa tidak merasa capek?” tanya
Heren spontan. Mama berdiri dan turun dari atas tempat tidur mengambil tas yang
diletakkan di sofa dekat jendela karena deringan sebuah handphonenya.
“Apa Papa tidak pernah merasa capek,
sebentar keluar datang masuk rumah cuma sebentar trus keluar lagi, datang
sebentar keluar lagi” mengulang
gebu emosi Heren, “apa seperti itu yang
namanya pembisnis?” perhatian Mama
kembali tertuju pada putrinya setelah membaca sebuah pesan singkat. Lanjut
Heren, “banyak kok pembisnis tidak
seperti itu, kalau sudah menyelesaikan suatu urusan apalagi sudah keluar kota
setidaknya waktu sudah pulang ke rumah yah, sudah ada di rumah istirahat.” Dengan saksama Mama memperhatikan kalimat
penjelas anaknya yang hampi tanpa titik koma. Lagi-lagi Mama hanya tersenyum
dan kembali duduk ke posisi semula. Melihat ekspresi Mama, wajah Heren menjadi
cemberut. Mama tahu maksud dan ekspresi anaknya, dan apa yang dirasakan putri
semata wayangnya.
“ Tentu saja Papa sangat lelah, kata siapa
Papa tidak lelah?” respon Mama.
“Lalu?”
tangkis Heren.
“Yah...mau diapalagi. Namanya juga suatu
pekerjaan.”
“Tapi apa harus berlebihan seperti
ini?” lagi-lagi penuh
pertanyaan menghantui Heren setiap jawaban dari Mama.
“ Akan ada saatnya kamu mengerti...” perjelas
Mama. Dengan pasang wajah jutek, Heren hanya mengangkat kedua bahunya seolah
tidak menerima penjelasan Mama begitu saja.
“Pokoknya, suatu hari nanti kamu pasti akan
mengerti!” tambah Mama.
Tangkis
heren, ”Kapan?”
Mendengar
pertanyaan anaknya, Mama hanya tersenyum memandangi anaknya tanpa sepatah kata
pun. Lagi-lagi Heren dibuat ngambek berpaling dari tatapan Mama dengan sikap
Mama yang hanya memberi jawaban dengan sebuah senyum, dan hanya selalu sebuah
senyum. Mama makin mendekatkan tatapanny ke arah wajah manis putrinya. Ada
sesuatu yang aneh dari tatapan Mama yang juga dipenuhi senyam-senyum, perlahan
Heren membalikan kepalanya ke wajah Mama.
“Ada apa...? tanya Heren lirih.
Balas
Mama dengan sebuah senyum centir. Sambil menggoyang-goyangkan kepala, wajah
Mama nampak begitu riang dan berseri-seri. Alis Heren menjadi dengkur balas
sorotan Mama.
“Boleh Mama tau, teman kencang putri Mama
ini siapa?”
Wajah
Heren menjadi berkerut setelah mendengar pertanyaan Mamanya. Kedua mulutnya
terbuka benar-benar bingung kenapa tiba-tiba pikiran Mama ke arah situ!
“Kenapa...?” tanya
Mama lembut.
Sanggah
Heren, “Mama!” Perasaan Heren sudah tidak nyaman lagi
“Boleh Mama tau nggak?”
Heren
berhenti menatap Mama, “Gak ada kok
Ma...” jawabnya serasa berat.
“Mmm...kalo kamu yang respect...?”
“Ma-ma!”
“em...? Bagaimana yah orangnya...?”
Wajah heren serasa panas dan
memerah dengan tatapan Mama yang centir, dengan sikap seolah malu-malu kucing
Heren meninggalkan kamar orang tuanya. Untungnya Heren bukan gadis yang suka keluyuran seperti remaja
lainnya, justru sangat malas keluar rumah tanpa tujuan. Mengetahuai bagian
kepribadian Heren yang baik, Mama Papa tiduk perlu begitu khawatir khususnya
Mama bila harus meninggalkan rumah menemani suaminya karena Heren pun sebagai
anak sulung cukup bisa diandalkan menjadi panutan untuk adiknya.
Dipagi hari, tanpa sadar Heren melewatkan waktu untuk
bersiap-siap berangkat ke sekolah waktu untuk bersantai sejenak sambil
merapikan kamar tidurnya sendiri, waktu mandi yang santai justru diluangkan di
pembaringan. Sinar matahari yang menyingsing jendela kamar, merusuk wajah Heren
dan sebagian tubuhnya yang masih dilumuti selimut, sedikit merasakan sesuatu
sedang merusuk wajahnya. “ha...a...a...” menguap Heren sedikit mata terbuka bagian
belahan pipinya tertutupi bantal. Tidak ada yang mengalahkan rasa ngantuk dalam
lelapan malam menjelang dini hari kembali lagi. Perlahan membuka mata, belum
pada hitungan ke dua matanya kembali tertutup lelap. Namun tusukan itu, serasa
makin menempel di pipinya, kedua mata Heren langsung terbuka melotot, terbuka
lebar-lebar segera bangun dari pembaringan dengan panik dan ketakutan. “ahhq...” keluh Heren panik kebingunan berdiri melihat
jendela kamarnya bertanya-tanya siapa yang telah membuka horden jendela kamarnya. Ini pertama kalinya
jendela kamarnya terbuka dengan bantuan orang lain setiap pagi hari selama
menginjakkan kaki di dunia masa-masa SMA. Biasanya semua tanggung jawab kamar
pribadi menjadi tugas sendirnya, ia akan bangun sekitar pukul lima lewat dan
tak jarang membantu mbok Sufi menyiapkan sarapan pagi. Waktu tersisa satu jam
digunakan mulai dari bersiap-siap, sarapan hingga sekitar tiga pulu menit di
perjalanan untuk sampai ke sekolah. Akankah waktu sebanyak itu cukup? Heren
turun dari atas tempat tidur melihat weckernya, pukul enam dua puluh menit“ternyata sudah sangat pagi!” katanya dalam benak dengan wajah luwes
berusaha mempergunakan waktu semaksimal mungkin. Setelah keluar dari kamar
mandi, ia terperanga melihat kasur menjadi rapi kembali. Tidak ingin memikirkan
berlarut-larut siapa dan siapa...sesegera mungkin ia mengenakan seragam
sekolah. Biasa dan sederhana ciri khas penampilan Heren jadi tidak akan
menghabiskan banyak waktu di depan cermin. Secepat mungkin ia melalui tangga
demi anak tangga, di meja makan sudah ada Rafa menunggu untuk sarapan bersama
sang kakak. Tangga yang tidak berada jauh dari meja makan, Heren menghampiri
Rafa
“Kak,
kita sarapan sama-sama” ajak
Rafa mulai menyiapkan santapannya.
“Mama
mana?”
“Baru
keluar, katanya cuma sebentar. Sedangkan Papa jam enam tadi sudah keluar
duluan.” Jelas Rafa
Heren
begitu ingin banyak tanya, Papa dan Mama berpakaian apa, apakah Rafa kira-kira
tahu ke mana arah orang tua mereka sepagi ini, tapi waktu seminim seperti
sekarang ini sangat tidak memungkinkan.
“oh...kakak
berangkat dulu” pamit lalu
membalikan diri.
Baru
dua langkah, “kakak tidak sarapan?” tanya Rafa.
“kakak udah telat dek...maaf yah.” Heren langsung bergegas pergi.
“hati-hati
kak....”
Jawab
Heren melambaikan tangan pada Rafa. Di luar Heren bergegas berjalan cepat
hingga sampai di luar kompleks mencari sebuah taxi untuk lebih cepat. Di depan
pagar rumah ada Pak Bani “naik ojek aja,
Neng....” saran Pak Bani santun. Angguk Heren tersenyum menerima saran Pak
Bani tidak peduli kendaraan apapun yang bisa digunakannya asalkan bisa
mengantarnya ke tujuan dengan selamat. Namun sebuah taxi telah mengantar
seorang penumpang tetangga Heren, bergegas Heren menghampiri dan menaikinya.
Pak Bani hanya tersenyum melihat anak majikannya yang sangat dikenalnya baik
dan polos. Sudah menunjukkan pukul tujuh lewat, dari kaca mobil sopir taxi
sangat memperhatikan penumpangnya yang tidak tenang penuh gelisah.
“Maaf,
neng begitu gelisah sekali...?” tanya sopir santun lembut.
“ehq,
oh...Pak bisa lebih cepat sedikit tidak, Pak?”
Jawab
Pak sopir menundukkan kepalanya. Heren terdiam mengingat-ingat betul jam berapa
ia tidur semalam, dalam ingatannya tetap menempel sebuah angka sembilan, ia
tidur malam dipukul sembilan seperti biasanya.
“Pak,
usahakan sebelum pukul tujuh dua puluh lima menit sudah harus tiba di sekolah,
yah Pak!”
Pak
sopir tersenyum jawabnya menundukkan kepala, “telat bangun, yah Neng...? begadang...? tanya Pak sopir yang setengah baya mulai
berceloteh.
“ehq?
Enggak Pak, saya tidak pernah begadang kecuali kalo ada sesuatu yang sangat
penting” jawab Heren jelas, “Saya saja tidak tau kenapa bisa telat
bagun. padahal semalam jam tidurnya seperti biasanya, jam sepuluh” tambah
Heren. Pak sopir hanya tersenyum mendengar penjelasan penumpangnya.
Sesuai permintaan penumpangnya,
Heren tiba di sekolah pukul tujuh lewat dua puluh lima menit. Setelah membayar
ongkos, Heren bergegas turun dan berlari memasuki pintu gerbang sebelum dikunci
tepat pukul tujuh tiga puluh menit. Tersisa waktu lima menit bel sekolah tanda
memulai pelajaran, Heren akhirnya tiba menampakkan sesosok orang yang sedang
dikejar. Memasuki pintu gerbang mampir menghempaskan nafasnya di ruang jaga satpam, satpam sekolah
sedikit terkejut karena kedatangan Heren tiba-tiba yang kelelahan.
“Sisa
berapa menit Pak bel bunyi?” tanya Heren.
“Masih
ada empat menit neng...” jawab Pak satpam yang berusia sekitar empat
puluh lima ke atas.
“oh...”
Angguk Heren mendengarnya.
Heren sambil berjalan santai
bersama keramaian banyaknya kaki di tengah-tengah lapangan hingga teras kelas,
sedikit tersendak nafas batuk kecil. Setibanya di kelas sambil duduk menaruh
tasnya, bel awal pelajaran pun dimulai. Dengan terdiam tenang, begitu seriusnya
Heren mendengar bunyi bel melepas dahaganya hampir saja melanggar peraturan
sekolah, salah satunya dalam poin ‘tidak
datang terlambat ke sekolah.’
Beberapa menit kemudian, guru mata
pelajaran pertama memasuki ruang kelas, pelajaran Bahasa Indonesia.
“Selamat
pagi anak-anak” Sapa Ibu
Agustina sambil berjalan ke meja guru.
“pagi
bu...” Ceria balas kelas dua ipa tiga.
Terasa bernuansa cerah di kelas dua IPA tiga.
Bagaimana tidak? Setelah libur satu minggu minggu dua hari yang lalu tanda
menutup semester ganjil di kelas dua memasuki semester genap, kini masa-masa
sedang menjalani semester genap lalu tidak terasa akan menjadi kakak kelas
tertua, begitu cepatkah waktu berlalu begitu saja? Tiba saatnya bertemu kembali
dengan Ibu Agustina yang bawaannya belajar terasa lepas, tidak menegangkan dan
cukup santai saat membawakan materi dan saat berdiskusi bersama. Bukan berarti
seolah bebas dalam hal belajar namun serius dan santai, itulah yang diterapkan
Ibu Agus saat proses belajar mengajar dan berinteraksi dengan siswa-siswinya.
Serius dan canda tidak pernah lepas dalam ruangan selama dua jam mata pelajaran
berlangsung. Seragam putih abu-abu yang menghiasi tubuh begitu rapi dan cerah,
di tambah hari yang sangat cerah, semuanya serba cerah di hari ini.
“Kita
bertemu lagi yah...? Saya kira di semester dua ini bukan saya lagi yang akan
mengajar di kelas ini. Ternyata...kembali lagi” Pembuka celoteh Bu Agus mengakrabkan suasana.
“Sudah
takdir bu...!” teriak seorang siswa di pojokan belakang. Bu
Agus hanya tersenyum dan siswa lainnya turut tersenyum bahkan tertawa sang
idola kembali bertemu.
Lanjut
Bu Agus, “Untungnya saya tidak merasa
bosan mengajar di kelas ini” lalu
membuka buku panduan. Semua siswa bersorak mendengar pengakuan dari guru
favorit siswa di sekolah ini. Sebelum memulai materi yang sudah dibukanya,
lagi-lagi Bu Agus lanjut bercanda, “Bagaimana liburannya selama satu minggu?” Tanya bu Agus tersenyum.
“wah...serasa
pengen nambah Bu. Boleh tidak, Bu?” Jawab
seorang siswa masih dari pojok belakang
“boleh...Ibu
juga masih ingin liburan. Kalau sudah ada tanggapan dari kepala sekolah,
beritahu Ibu yah...!” Balas Bu Agus lebih bercanda. Semua yang
berada dalam ruangan tertawa lepas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar