II
Selamat
Ulang Tahun, Untukmu
Tepat
depan rumah Heren, sebuah taxi berhenti mengantar mereka bersama Jiyan. Tepat
mobil berhenti tanpa sia-siakan waktu Jiyan melepas dasi seragamnya yang
panjang langsung menutup kedua mata Heren, “Maaf
ya bu...” izin Jiyan. Heren kaget
tiba-tiba tidak ada apa-apa kenapa langsung ada acara menutup mata,
“Eh,
ada apa ini?” tanya Heren merasa risih.
“Ada
surprise!” jawab Jiyan seadanya seolah bercanda.
Selesai Jiyan mengikatkan dasinya di kepala Heren
untuk menutup matanya, Jiyan membayar
sewa taxi lalu mengajak Heren turun dan berjalan dengan penuh hati-hati. Di
teras depan dan di dalam rumah juga ada beberapa orang yang belum pernah
dilihat Jiyan turut berpartisipasi menghias rumah semewah rumah seorang puteri.
Bagian sudut, celah-celah yang bisa dipasangi kertas-kertas berwarna semua
bagian-bagian luar dalam rumah dihiasi seindah mungkin tanpa mengeluarkan
bising-bising apalagi ada suara yang terdengar saat Heren memasuki rumah,
terlebih lagi suara dalam rumah yang cukup padat tapi untungnya semua bisa
diadaptasikan apalagi sedang dalam pertengahan hampir selesai. Semua yang melihat Heren berjalan penuh
hati-hati sambil tersenyum dituntun oleh
Jiyan, kode antara Jiyan dan Mama Heren menandakan hampir berjalan mulus lalu
perlahan menaiki anak tangga dengan per anak tangga dengan sangat penuh
hati-hati. Tiba di kamar Heren, Jiyan membuka pintu kamar lalu menutupnya
kembali tidak lupa mengunci kamar tetapi
kunci tersebut tidak dilepas. Jiyan membuka penutup mata Heren,
“Cepatan...”
keluh
Heren kedua matanya sudah pegal ditutup.
“Ia,
bentar....”
“Sur-prise...!”
heboh
Jiyan teriak sendiri dalam kamar.
Heren melongo sendiri memandang
disekelilingnya, tidak ada apa-apa yang berubah tempat apalagi anggapannya ada
tambahan dalam kamar, sama sekali tidak ada perubahan apapun. Jiyan membuang
tubuhnya di tempat tidur yang empuk, Heren bingung dibuatnya...mengatakan
surprise tapi tidak ada apa-apa, tapi langsung saja membuang tubuhnya ditempat
tidur. Wajah Heren langsung cemberut menuju ke kamar mandi. Heren keluar dari
kamar mandi dengan mengenakan pakaian rumah, menghempaskan nafas kesal melihat
Jiyan yang terlihat nyenyak tidur.
“Nggak
ada batas berapa halaman, kan. Ibu menyuruh kita buat tugas cerita tentang
liburan?” tanya
Heren sambil berkaca depan cermin hiasnya. Tidak ada balasan jawaban. Heren
melihat ke samping arah tempat tidur, Jiyan masih tetap dalam posisi yang sama
telentang tangan kiri berada di atas kepala tepat di jidat, dan tangan kanannya
berada di atas dada. “Kayaknya aku lagi
mau dapet...rasanya pengen makan yang pedes” Keluh Heren dengan perubahan yang dirasakan
pada bulan baru. Sekitar dua puluh detik berlalu wajah Heren menjadi cemberut
seratus enam puluh derajat masih tidak ada respon, apakah Jiyan benar sudah
tidur? Perlahan tubuh Jiyan bergerak, terbagun, “Mungkin...sekarang kan sudah awal bulan” jawab Jiyan sambil turun dari tempat tidur.
Yah, Jiyan juga paling tau keluh-kesah Heren bila ingin halangan setiap bulan,
pokoknya cukup rewel.
“Mau
kemana?” tanya
Heren melihat Jiyan mengambil tasnya.
“Aku
pulang dulu, yah”
“haa?
Keluar makan yuk!”
“Ya
ampun, kan udah pas mau pulang tadi”
“Daaa” Jiyan menutup pintu kamar dan menguncinya dari
luar tanpa terdengar ada bising Heren mendengarnya. Heren melongo memandang pintu
kamar melihat kepergian sahabatnya seketika. Mama menghampiri Jiyan saat berada
di akhir anak tangga bawah dan mengajakanya mengelilingi hasil tempat-tempat
pemasangan hiasan di sekitar dalam dan luar rumah yang hampir selesai, semuanya
di acunkan dua jempol untuk Mama. Balas mama mengacunkan
kembali dua jempolnya atas ide dan bantuan seorang anak gadis yang sudah
dianggap anak kandungnya juga, Jiyan. Di atas kamar sana entah apa yang
dilakukan Heren, mungkin tidur karena di sekolah hari ini, merupakan hari yang
cukup melelahkan. Heren dan Jiyan tiba
di rumah sekitar pukul tiga, biasanya Heren beristirahat sekitar dua jam,
berarti kemungkinan Heren akan bangun sekitar pukul lima, perkiraan Mama.
Waktu
menunjukkan pukul tujuh belas lewat lima belas menit, terdengar suara dari atas
kamar Heren sambil memukul-mukul pintu kamar,
“Ma...”
teriak Heren. Nama Mbok, Papa, Rafa, Pak Bani...semua
nama seisi rumah Heren panggil. Mama naik membukakan pintu langsung masuk ke
kamar, melihat wajah Heren mengerut,
“Jiyan
jahat banget kunciin aku pintu!” kesal Heren.
“Sudah,
sudah. Kenapa belum mandi? Jam berapa sekarang?” tanya
Mama lembut. Heren memandang kerapian sore hari Mama dari atas hingga ujung
kaki.
“Mama
mau kemana?” terlepas nada kesal. Mama hanya menggelengkan
kepala melihat wajah cemberut puterinya. Tanpa ada jawaban langsung, Mama
memberi pengarahan pada Heren untuk pergi mandi segera. Setelah Heren keluar
dari kamar mandi, sebuah gaun berwarna putih pertama kali dilihatnya berada di
kamar tergeletak di atas tempat tidur. Sementara Mama sibuk di meja rias.
“Itu...?”
entah apa
yang ingin dikatakan Heren, rasanya sesak bila mengungkapkannya. Mama
mengajaknya duduk di meja rias...apa yang dilakukan Mama, Heren terima saja.
Sementara merias wajah, Heren menahan tangan Mamanya,
“Ma,
sebenarnya kita mau kemana?” suatu
pertanyaan tiba-tiba mengelilingi kepala Heren. Mama memandang puterinya di
cermin sambil tersenyum,
“Maaf
Mama tidak bisa memberitahukannya...tapi percaya sama mama, kamu akan
menyukainya” saran
Mama. Heren membalas senyuman sayang Mama di cermin, jawab Heren angguk. Heren
tidak begitu mahir dalam berdandan beda dengan Jiyan yang jauh lebih mahir
dalam menjadikan wanita gadis menjadi seorang wanita gadis tulen, sama seperti Mama. Dengan rambut lurus
seperempat melewati bahu yang terurai dihiasi jepitan rambut cerah sangat pas
dengan gaun yang dikenakannya ditambah lagi dengan high heels yang tinggi,
rasanya bukan Heren yang nampak di cermin. Sekitar pukul delapan belas berlalu
tiga puluh lima menit. Mama mengajak Heren untuk menarik nafas secara pelan-pelan melihat puterinya sangat
tegang dan masukan-masukan lain untuk mencegah ketegangan nantinya. Sementara
di bawah sana, Papa dan Jiyan melayani tamu.
“Ma,
umur aku baru enam belas tahun...bukan berarti harus secepat ini,kan ma?”
Alis Mama melebar seketika
menangkap maksud puterinya, “Jadi secepat
itu kamu tangkap maksud semua ini...?” tanya Mama lembut angguk-angguk.
Mama memperhatikan kedua bola mata Heren yang ingin membasah namun begitu kuat
tertahan ditenggorokan. Heren menunduk,
“Maaf
ma kalo heren akan memberontak”
Mama hanya mengangguk-angguk
mendengar kesah puterinya, “Baiklah,
nanti akan kita lihat” dengan nada
tegas. Tidak terasa hampir dua jam menghabiskan waktu berdua dalam melakukan
banyak hal.
Perlahan berjalan menurungi anak tangga tahap
demi tahap dengan mengikuti petunjuk Mama
sambil menutup kedua mata Heren, sebagian tamu yang baru datang memasuki
area ruang tamu menyoroti ratu belia yang dicari-cari para tamu undangan. Setelah
sampai puncak akhir anak tangga bawah dan langsung diantar ke belakangkanya
tempat acara akan dimulai, tepat di ruang masuk taman belakang sebuah gerbang
tanpa pintu Mama melepas tangannya yang membentuk lingkaran di kepala Heren.
Heren terkejut melihat sesuatu yang tidak disangka-sangkanya, bahkan jauh dari
perkiraan kelirunya.
“Memangnya
Mama sama Papa menganggap kamu ini apa, menjodoh-jodohkakn anak sendiri dengan umur yang masih muda!”
bisik Mama di kuping Heren. Heren tertawa kecil mengingat ucapannya di kamar
tadi. Ia berbalik berhadapan dengan Mama dan memeluknya,
“Makasih
banyak ma....”
“Em...sama
Papa juga.”
Tidak lupa memeluk Papa dan Rafa yang datang
mendekat, sambil mengucapkan ucapan selamat ulang tahun. Beberapa tamu yang
berdekatan menyalami Heren...”Terimakasih.”
Heren berjalan menuju ke puncak acara, ada kue ulang tahun berlapis dua,
ada juga Jiyan bediri di samping meja tersebut.
“Hai....selamat
ulang tahun. Ini” menyedorkan sebuah kado
berukuran kecil.
“bagus
yah, kunciin aku pintu?”
“Ok...,
tapi kan sekarang sudah gak terkunci lagi, ni sudah ada berdiri malah.”
Heren membelalakan matanya dengan ekspresi
bercanda ingin tersenyum, keduanya saling tersenyum dan memenuhi kehangatan
layaknya saudara kandung.
“Maaf
yah....”
Jawab Heren angguk, “Selamat ulang tahun” sambil
menyedorkan kado di hadapan Heren. “Makasih.”
Kini tiba saatnya acara yang dinanti-nantikan,
semua teman-teman Heren menghadiri undangan resmi Heren yang dipublikan oleh
Jiyan melali bisikan-bisikan kecil tanpa sepengetahuan Heren. Tidak hanya
teman-teman kelas Heren yang hadir dalam pesta, pula banyak siswa-siswi lain
yang mengenal Heren di sekolah dan semuanya itu tak lupa diundang oleh Jiyan.
Hiasan yang sederhana menjadi sorak dan mencolok karena kehadiran teman-teman
yang banyak dan keluarga-keluarga dari Mama-papa. Datangnya gelap menghiasi
bumi tetap mencerahkan suasana malam di bawah bulan purnama, perlahan bumi
berputar pada porosnya sepoian angin pelan-pelan menjadi terasa lembut
mengitari kulit pelindung tubuh. Hangatnya tawa dan candaan berproses dalam
aliran darah untuk tetap menghangatkan tubuh. Makin cerahnya hari yang dinanti-nantikan tanpa perencanaan apapun
oleh si pemilik hari ini. Jiyan berhasil membuat semuanya lebih menyenangkan
sahabatnya, Semuanya terlihat sangat mengesankan.
Saatnya acara akan dimulai, inilah yang
dinanti-nantikan... kue tar yang dihiasi oleh dua buah lilin angka sau dan
tujuh dinyalakan, saatnya tiup lilin dan semuanya menyanyikan lagu ‘tiup lilin’
namun sebelumnya dengan sadar,Heren mengharapkan sesutu sebelum mengawali
kemeriahan umur yang bertambah. Lanjut untuk memotong kue ulang tahun, semuanya
bernyani lagu ‘potong kue’ tetapi mata Heren mengitari semua orang yang berdiri
mengelilinginya seolah sedang mencari seseorang. Heren tersadar dengan
keberadaannya sekarang ia pun mendengar permintaan teman-teman untuk memotong
kue, dan kue tersebut diberikan kepada Jiyan, Jiyan terkejut karena anggapannya
pasti akan diberikan kepada kedua orang tua Heren. Heren sangat bersyukur
kepada Tuhan karena telah mengiriminya umat yang baik dan mendukungnya dalam
segala hal berbau positif. Dan teristimewa lagi seorang sahabat yang dikenalnya
baik melebihi saudara kandung sendiri, seperi seorang kakak sehingga Heren
seolah sedang mersakan rasanya mempunyai seorang kakak. Heren dan Jiyan
seumuran hanya beda beberapa bulan saja. Ulang tahun Jiyan sudah berlalu tahun
ini, kelak umur panjang Heren pasti turut membantu merayakannya, sama seperti
yang dilakukan Jiyan malam ini. Di
rerumputan hijau yang merata di atas tanah, setelah Heren menjadi bahan cucian
mata, Papa mempersilakkan kerabat dan para tamu lainnya untuk berdansa dengan
iringan lagu melankonik yang pastinya akan di sukai oleh muda-mudi juga.
Meskipun tidak membawa pasangan ke pesta,
bukan berarti tidak berdansa doonk... perkenalan pun di mulai, para si jantan
melakukan pengejaran terhadap lawannya yang masih berdiri sendiri, masa bodoh bila si cewek
sudah punya kekasih, kekasihnya kenapa tidak diajak? Akan terus perkenalan berlanjut
atau hanya sekedar sebatas di panggung dansa saja itu urusan belakangan....
Semua
yaang turut berparti merasakan kehangatan dan kesenangan wajah yang berseri,
tetapi ada apa dengan Heren? Di tenga-tengah para tamu, jika terus dan makin
lama diperhatikan kepala yang senor kanan kiri sambil berjalan di tengah-tengah
keramaian sepertinya sedang mencari seseorang. Apakah Asdin? Lama Heren
bolak-balik mencarinya berkeliling tetap tidak ada di tengah-tengah keramaian,
sementara teman-teman Heren masih ada berdatangan dua-tiga orang, juga masih belum
ada muncul. Kenapa Jiyan tidak mengundangnya? Ia melihat seorang laki-laki
sedang berbincang dengan dengan rekan kerja Papa Heren, “Tapi tidak mungkin jika Jiyan tidak mengundangnya” dalam benak Heren setelah melihat kakak
kelasnya yang beda setingkat. Meskipun sudah pasti Asdin tidak mengenalnya,
tapi setidknya ia datang karena Yuno datang. Acara sudah berlansung sekitar
sejam, sudah tidak ada tamu yang datang, sudah pasti...ya, pasti tidak datang.
Heren mulai nampak putus asa, dititik keramaian Heren menengada ke atas langit
yang diterangi bulan purnama dan bintik-bintik yang berkedip-kedip yang
banyaknya tak terhingga. Untungnya suasana malam tidak gelap seperti kegelapan
wajah Heren, terangnya malam membantu membuatnya tesenyum menerima yang tidak pasti
terjadi di hari miliknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar