Kamis, 31 Mei 2012

catatan heren_selamat ulang tahun, untukku II


II
Selamat Ulang Tahun, Untukmu

Tepat depan rumah Heren, sebuah taxi berhenti mengantar mereka bersama Jiyan. Tepat mobil berhenti tanpa sia-siakan waktu Jiyan melepas dasi seragamnya yang panjang langsung menutup kedua mata Heren, “Maaf ya bu...”  izin Jiyan. Heren kaget tiba-tiba tidak ada apa-apa kenapa langsung ada acara menutup mata,
“Eh, ada apa ini?”  tanya Heren merasa risih.
“Ada surprise!”  jawab Jiyan seadanya seolah bercanda.
Selesai  Jiyan mengikatkan dasinya di kepala Heren untuk menutup matanya,  Jiyan membayar sewa taxi lalu mengajak Heren turun dan berjalan dengan penuh hati-hati. Di teras depan dan di dalam rumah juga ada beberapa orang yang belum pernah dilihat Jiyan turut berpartisipasi menghias rumah semewah rumah seorang puteri. Bagian sudut, celah-celah yang bisa dipasangi kertas-kertas berwarna semua bagian-bagian luar dalam rumah dihiasi seindah mungkin tanpa mengeluarkan bising-bising apalagi ada suara yang terdengar saat Heren memasuki rumah, terlebih lagi suara dalam rumah yang cukup padat tapi untungnya semua bisa diadaptasikan apalagi sedang dalam pertengahan hampir selesai.  Semua yang melihat Heren berjalan penuh hati-hati  sambil tersenyum dituntun oleh Jiyan, kode antara Jiyan dan Mama Heren menandakan hampir berjalan mulus lalu perlahan menaiki anak tangga dengan per anak tangga dengan sangat penuh hati-hati. Tiba di kamar Heren, Jiyan membuka pintu kamar lalu menutupnya kembali  tidak lupa mengunci kamar tetapi kunci tersebut tidak dilepas. Jiyan membuka penutup mata Heren,
“Cepatan...”  keluh Heren kedua matanya sudah pegal ditutup.
“Ia, bentar....”
“Sur-prise...!”  heboh Jiyan teriak sendiri dalam kamar.
Heren melongo sendiri memandang disekelilingnya, tidak ada apa-apa yang berubah tempat apalagi anggapannya ada tambahan dalam kamar, sama sekali tidak ada perubahan apapun. Jiyan membuang tubuhnya di tempat tidur yang empuk, Heren bingung dibuatnya...mengatakan surprise tapi tidak ada apa-apa, tapi langsung saja membuang tubuhnya ditempat tidur. Wajah Heren langsung cemberut menuju ke kamar mandi. Heren keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian rumah, menghempaskan nafas kesal melihat Jiyan yang terlihat nyenyak tidur.
“Nggak ada batas berapa halaman, kan. Ibu menyuruh kita buat tugas cerita tentang liburan?”   tanya Heren sambil berkaca depan cermin hiasnya. Tidak ada balasan jawaban. Heren melihat ke samping arah tempat tidur, Jiyan masih tetap dalam posisi yang sama telentang tangan kiri berada di atas kepala tepat di jidat, dan tangan kanannya berada di atas dada. “Kayaknya aku lagi mau dapet...rasanya pengen makan yang pedes”  Keluh Heren dengan perubahan yang dirasakan pada bulan baru. Sekitar dua puluh detik berlalu wajah Heren menjadi cemberut seratus enam puluh derajat masih tidak ada respon, apakah Jiyan benar sudah tidur? Perlahan tubuh Jiyan bergerak, terbagun, “Mungkin...sekarang kan sudah awal bulan”  jawab Jiyan sambil turun dari tempat tidur. Yah, Jiyan juga paling tau keluh-kesah Heren bila ingin halangan setiap bulan, pokoknya cukup rewel. 
“Mau kemana?”  tanya Heren melihat Jiyan mengambil tasnya.
“Aku pulang dulu, yah”
“haa? Keluar makan yuk!”
“Ya ampun, kan udah pas mau pulang tadi”
“Daaa”  Jiyan menutup pintu kamar dan menguncinya dari luar tanpa terdengar ada bising Heren mendengarnya. Heren melongo memandang pintu kamar melihat kepergian sahabatnya seketika. Mama menghampiri Jiyan saat berada di akhir anak tangga bawah dan mengajakanya mengelilingi hasil tempat-tempat pemasangan hiasan di sekitar dalam dan luar rumah yang hampir selesai, semuanya di acunkan dua jempol untuk Mama. Balas mama mengacunkan kembali dua jempolnya atas ide dan bantuan seorang anak gadis yang sudah dianggap anak kandungnya juga, Jiyan. Di atas kamar sana entah apa yang dilakukan Heren, mungkin tidur karena di sekolah hari ini, merupakan hari yang cukup melelahkan.  Heren dan Jiyan tiba di rumah sekitar pukul tiga, biasanya Heren beristirahat sekitar dua jam, berarti kemungkinan Heren akan bangun sekitar pukul lima, perkiraan Mama.
              Waktu menunjukkan pukul tujuh belas lewat lima belas menit, terdengar suara dari atas kamar Heren sambil memukul-mukul pintu kamar,
“Ma...” teriak Heren. Nama Mbok, Papa, Rafa, Pak Bani...semua nama seisi rumah Heren panggil. Mama naik membukakan pintu langsung masuk ke kamar,  melihat wajah Heren mengerut,
“Jiyan jahat banget kunciin aku pintu!”  kesal Heren.
“Sudah, sudah. Kenapa belum mandi? Jam berapa sekarang?” tanya Mama lembut. Heren memandang kerapian sore hari Mama dari atas hingga ujung kaki.
“Mama mau kemana?”  terlepas nada kesal. Mama hanya menggelengkan kepala melihat wajah cemberut puterinya. Tanpa ada jawaban langsung, Mama memberi pengarahan pada Heren untuk pergi mandi segera. Setelah Heren keluar dari kamar mandi, sebuah gaun berwarna putih pertama kali dilihatnya berada di kamar tergeletak di atas tempat tidur. Sementara Mama sibuk di meja rias.
“Itu...?”  entah apa yang ingin dikatakan Heren, rasanya sesak bila mengungkapkannya. Mama mengajaknya duduk di meja rias...apa yang dilakukan Mama, Heren terima saja. Sementara merias wajah, Heren menahan tangan Mamanya,
“Ma, sebenarnya kita mau kemana?”  suatu pertanyaan tiba-tiba mengelilingi kepala Heren. Mama memandang puterinya di cermin sambil tersenyum,
“Maaf Mama tidak bisa memberitahukannya...tapi percaya sama mama, kamu akan menyukainya”  saran Mama. Heren membalas senyuman sayang Mama di cermin, jawab Heren angguk. Heren tidak begitu mahir dalam berdandan beda dengan Jiyan yang jauh lebih mahir dalam menjadikan wanita gadis menjadi seorang wanita gadis  tulen, sama seperti Mama. Dengan rambut lurus seperempat melewati bahu yang terurai dihiasi jepitan rambut cerah sangat pas dengan gaun yang dikenakannya ditambah lagi dengan high heels yang tinggi, rasanya bukan Heren yang nampak di cermin. Sekitar pukul delapan belas berlalu tiga puluh lima menit. Mama mengajak Heren untuk menarik nafas  secara pelan-pelan melihat puterinya sangat tegang dan masukan-masukan lain untuk mencegah ketegangan nantinya. Sementara di bawah sana, Papa dan Jiyan melayani tamu.
“Ma, umur aku baru enam belas tahun...bukan berarti harus secepat ini,kan ma?”
Alis Mama melebar seketika menangkap maksud puterinya, “Jadi secepat itu kamu tangkap maksud semua ini...?” tanya Mama lembut angguk-angguk. Mama memperhatikan kedua bola mata Heren yang ingin membasah namun begitu kuat tertahan ditenggorokan. Heren menunduk,
“Maaf ma kalo heren akan memberontak”
Mama hanya mengangguk-angguk mendengar kesah puterinya, “Baiklah, nanti akan kita lihat”  dengan nada tegas. Tidak terasa hampir dua jam menghabiskan waktu berdua dalam melakukan banyak hal.

 Perlahan berjalan menurungi anak tangga tahap demi tahap dengan mengikuti petunjuk Mama  sambil menutup kedua mata Heren, sebagian tamu yang baru datang memasuki area ruang tamu menyoroti ratu belia yang dicari-cari para tamu undangan. Setelah sampai puncak akhir anak tangga bawah dan langsung diantar ke belakangkanya tempat acara akan dimulai, tepat di ruang masuk taman belakang sebuah gerbang tanpa pintu Mama melepas tangannya yang membentuk lingkaran di kepala Heren. Heren terkejut melihat sesuatu yang tidak disangka-sangkanya, bahkan jauh dari perkiraan kelirunya.
“Memangnya Mama sama Papa menganggap kamu ini apa, menjodoh-jodohkakn  anak sendiri dengan umur yang masih muda!” bisik Mama di kuping Heren. Heren tertawa kecil mengingat ucapannya di kamar tadi. Ia berbalik berhadapan dengan Mama dan memeluknya,
“Makasih banyak ma....”
“Em...sama Papa juga.”
Tidak lupa memeluk Papa dan Rafa yang datang mendekat, sambil mengucapkan ucapan selamat ulang tahun. Beberapa tamu yang berdekatan menyalami Heren...”Terimakasih.” Heren berjalan menuju ke puncak acara, ada kue ulang tahun berlapis dua, ada juga Jiyan bediri di samping meja tersebut.
“Hai....selamat ulang tahun. Ini” menyedorkan sebuah kado berukuran kecil.
“bagus yah, kunciin aku pintu?”
“Ok..., tapi kan sekarang sudah gak terkunci lagi, ni sudah ada berdiri malah.”
Heren membelalakan matanya dengan ekspresi bercanda ingin tersenyum, keduanya saling tersenyum dan memenuhi kehangatan layaknya saudara kandung.
“Maaf yah....”
Jawab Heren angguk, “Selamat ulang tahun”  sambil menyedorkan kado di hadapan Heren. “Makasih.”
Kini tiba saatnya acara yang dinanti-nantikan, semua teman-teman Heren menghadiri undangan resmi Heren yang dipublikan oleh Jiyan melali bisikan-bisikan kecil tanpa sepengetahuan Heren. Tidak hanya teman-teman kelas Heren yang hadir dalam pesta, pula banyak siswa-siswi lain yang mengenal Heren di sekolah dan semuanya itu tak lupa diundang oleh Jiyan. Hiasan yang sederhana menjadi sorak dan mencolok karena kehadiran teman-teman yang banyak dan keluarga-keluarga dari Mama-papa. Datangnya gelap menghiasi bumi tetap mencerahkan suasana malam di bawah bulan purnama, perlahan bumi berputar pada porosnya sepoian angin pelan-pelan menjadi terasa lembut mengitari kulit pelindung tubuh. Hangatnya tawa dan candaan berproses dalam aliran darah untuk tetap menghangatkan tubuh. Makin cerahnya hari yang  dinanti-nantikan tanpa perencanaan apapun oleh si pemilik hari ini. Jiyan berhasil membuat semuanya lebih menyenangkan sahabatnya, Semuanya terlihat sangat mengesankan.

            Saatnya acara akan dimulai, inilah yang dinanti-nantikan... kue tar yang dihiasi oleh dua buah lilin angka sau dan tujuh dinyalakan, saatnya tiup lilin dan semuanya menyanyikan lagu ‘tiup lilin’ namun sebelumnya dengan sadar,Heren mengharapkan sesutu sebelum mengawali kemeriahan umur yang bertambah. Lanjut untuk memotong kue ulang tahun, semuanya bernyani lagu ‘potong kue’ tetapi mata Heren mengitari semua orang yang berdiri mengelilinginya seolah sedang mencari seseorang. Heren tersadar dengan keberadaannya sekarang ia pun mendengar permintaan teman-teman untuk memotong kue, dan kue tersebut diberikan kepada Jiyan, Jiyan terkejut karena anggapannya pasti akan diberikan kepada kedua orang tua Heren. Heren sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah mengiriminya umat yang baik dan mendukungnya dalam segala hal berbau positif. Dan teristimewa lagi seorang sahabat yang dikenalnya baik melebihi saudara kandung sendiri, seperi seorang kakak sehingga Heren seolah sedang mersakan rasanya mempunyai seorang kakak. Heren dan Jiyan seumuran hanya beda beberapa bulan saja. Ulang tahun Jiyan sudah berlalu tahun ini, kelak umur panjang Heren pasti turut membantu merayakannya, sama seperti yang dilakukan Jiyan  malam ini. Di rerumputan hijau yang merata di atas tanah, setelah Heren menjadi bahan cucian mata, Papa mempersilakkan kerabat dan para tamu lainnya untuk berdansa dengan iringan lagu melankonik yang pastinya akan di sukai oleh muda-mudi juga. Meskipun tidak membawa   pasangan ke pesta, bukan berarti tidak berdansa doonk... perkenalan pun di mulai, para si jantan melakukan pengejaran terhadap lawannya yang masih  berdiri sendiri, masa bodoh bila si cewek sudah punya kekasih, kekasihnya kenapa tidak diajak? Akan terus perkenalan berlanjut atau hanya sekedar sebatas di panggung dansa saja itu urusan belakangan....
Semua yaang turut berparti merasakan kehangatan dan kesenangan wajah yang berseri, tetapi ada apa dengan Heren? Di tenga-tengah para tamu, jika terus dan makin lama diperhatikan kepala yang senor kanan kiri sambil berjalan di tengah-tengah keramaian sepertinya sedang mencari seseorang. Apakah Asdin? Lama Heren bolak-balik mencarinya berkeliling tetap tidak ada di tengah-tengah keramaian, sementara teman-teman Heren masih ada berdatangan dua-tiga orang, juga masih belum ada muncul. Kenapa Jiyan tidak mengundangnya? Ia melihat seorang laki-laki sedang berbincang dengan dengan rekan kerja Papa Heren, “Tapi tidak mungkin jika Jiyan tidak mengundangnya”  dalam benak Heren setelah melihat kakak kelasnya yang beda setingkat. Meskipun sudah pasti Asdin tidak mengenalnya, tapi setidknya ia datang karena Yuno datang. Acara sudah berlansung sekitar sejam, sudah tidak ada tamu yang datang, sudah pasti...ya, pasti tidak datang. Heren mulai nampak putus asa, dititik keramaian Heren menengada ke atas langit yang diterangi bulan purnama dan bintik-bintik yang berkedip-kedip yang banyaknya tak terhingga. Untungnya suasana malam tidak gelap seperti kegelapan wajah Heren, terangnya malam membantu membuatnya tesenyum menerima yang tidak pasti terjadi di hari miliknya.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar