Kamis, 31 Mei 2012

catatan heren_selamat ulang tahun, untukku II


II
Selamat Ulang Tahun, Untukmu

Tepat depan rumah Heren, sebuah taxi berhenti mengantar mereka bersama Jiyan. Tepat mobil berhenti tanpa sia-siakan waktu Jiyan melepas dasi seragamnya yang panjang langsung menutup kedua mata Heren, “Maaf ya bu...”  izin Jiyan. Heren kaget tiba-tiba tidak ada apa-apa kenapa langsung ada acara menutup mata,
“Eh, ada apa ini?”  tanya Heren merasa risih.
“Ada surprise!”  jawab Jiyan seadanya seolah bercanda.
Selesai  Jiyan mengikatkan dasinya di kepala Heren untuk menutup matanya,  Jiyan membayar sewa taxi lalu mengajak Heren turun dan berjalan dengan penuh hati-hati. Di teras depan dan di dalam rumah juga ada beberapa orang yang belum pernah dilihat Jiyan turut berpartisipasi menghias rumah semewah rumah seorang puteri. Bagian sudut, celah-celah yang bisa dipasangi kertas-kertas berwarna semua bagian-bagian luar dalam rumah dihiasi seindah mungkin tanpa mengeluarkan bising-bising apalagi ada suara yang terdengar saat Heren memasuki rumah, terlebih lagi suara dalam rumah yang cukup padat tapi untungnya semua bisa diadaptasikan apalagi sedang dalam pertengahan hampir selesai.  Semua yang melihat Heren berjalan penuh hati-hati  sambil tersenyum dituntun oleh Jiyan, kode antara Jiyan dan Mama Heren menandakan hampir berjalan mulus lalu perlahan menaiki anak tangga dengan per anak tangga dengan sangat penuh hati-hati. Tiba di kamar Heren, Jiyan membuka pintu kamar lalu menutupnya kembali  tidak lupa mengunci kamar tetapi kunci tersebut tidak dilepas. Jiyan membuka penutup mata Heren,
“Cepatan...”  keluh Heren kedua matanya sudah pegal ditutup.
“Ia, bentar....”
“Sur-prise...!”  heboh Jiyan teriak sendiri dalam kamar.
Heren melongo sendiri memandang disekelilingnya, tidak ada apa-apa yang berubah tempat apalagi anggapannya ada tambahan dalam kamar, sama sekali tidak ada perubahan apapun. Jiyan membuang tubuhnya di tempat tidur yang empuk, Heren bingung dibuatnya...mengatakan surprise tapi tidak ada apa-apa, tapi langsung saja membuang tubuhnya ditempat tidur. Wajah Heren langsung cemberut menuju ke kamar mandi. Heren keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian rumah, menghempaskan nafas kesal melihat Jiyan yang terlihat nyenyak tidur.
“Nggak ada batas berapa halaman, kan. Ibu menyuruh kita buat tugas cerita tentang liburan?”   tanya Heren sambil berkaca depan cermin hiasnya. Tidak ada balasan jawaban. Heren melihat ke samping arah tempat tidur, Jiyan masih tetap dalam posisi yang sama telentang tangan kiri berada di atas kepala tepat di jidat, dan tangan kanannya berada di atas dada. “Kayaknya aku lagi mau dapet...rasanya pengen makan yang pedes”  Keluh Heren dengan perubahan yang dirasakan pada bulan baru. Sekitar dua puluh detik berlalu wajah Heren menjadi cemberut seratus enam puluh derajat masih tidak ada respon, apakah Jiyan benar sudah tidur? Perlahan tubuh Jiyan bergerak, terbagun, “Mungkin...sekarang kan sudah awal bulan”  jawab Jiyan sambil turun dari tempat tidur. Yah, Jiyan juga paling tau keluh-kesah Heren bila ingin halangan setiap bulan, pokoknya cukup rewel. 
“Mau kemana?”  tanya Heren melihat Jiyan mengambil tasnya.
“Aku pulang dulu, yah”
“haa? Keluar makan yuk!”
“Ya ampun, kan udah pas mau pulang tadi”
“Daaa”  Jiyan menutup pintu kamar dan menguncinya dari luar tanpa terdengar ada bising Heren mendengarnya. Heren melongo memandang pintu kamar melihat kepergian sahabatnya seketika. Mama menghampiri Jiyan saat berada di akhir anak tangga bawah dan mengajakanya mengelilingi hasil tempat-tempat pemasangan hiasan di sekitar dalam dan luar rumah yang hampir selesai, semuanya di acunkan dua jempol untuk Mama. Balas mama mengacunkan kembali dua jempolnya atas ide dan bantuan seorang anak gadis yang sudah dianggap anak kandungnya juga, Jiyan. Di atas kamar sana entah apa yang dilakukan Heren, mungkin tidur karena di sekolah hari ini, merupakan hari yang cukup melelahkan.  Heren dan Jiyan tiba di rumah sekitar pukul tiga, biasanya Heren beristirahat sekitar dua jam, berarti kemungkinan Heren akan bangun sekitar pukul lima, perkiraan Mama.
              Waktu menunjukkan pukul tujuh belas lewat lima belas menit, terdengar suara dari atas kamar Heren sambil memukul-mukul pintu kamar,
“Ma...” teriak Heren. Nama Mbok, Papa, Rafa, Pak Bani...semua nama seisi rumah Heren panggil. Mama naik membukakan pintu langsung masuk ke kamar,  melihat wajah Heren mengerut,
“Jiyan jahat banget kunciin aku pintu!”  kesal Heren.
“Sudah, sudah. Kenapa belum mandi? Jam berapa sekarang?” tanya Mama lembut. Heren memandang kerapian sore hari Mama dari atas hingga ujung kaki.
“Mama mau kemana?”  terlepas nada kesal. Mama hanya menggelengkan kepala melihat wajah cemberut puterinya. Tanpa ada jawaban langsung, Mama memberi pengarahan pada Heren untuk pergi mandi segera. Setelah Heren keluar dari kamar mandi, sebuah gaun berwarna putih pertama kali dilihatnya berada di kamar tergeletak di atas tempat tidur. Sementara Mama sibuk di meja rias.
“Itu...?”  entah apa yang ingin dikatakan Heren, rasanya sesak bila mengungkapkannya. Mama mengajaknya duduk di meja rias...apa yang dilakukan Mama, Heren terima saja. Sementara merias wajah, Heren menahan tangan Mamanya,
“Ma, sebenarnya kita mau kemana?”  suatu pertanyaan tiba-tiba mengelilingi kepala Heren. Mama memandang puterinya di cermin sambil tersenyum,
“Maaf Mama tidak bisa memberitahukannya...tapi percaya sama mama, kamu akan menyukainya”  saran Mama. Heren membalas senyuman sayang Mama di cermin, jawab Heren angguk. Heren tidak begitu mahir dalam berdandan beda dengan Jiyan yang jauh lebih mahir dalam menjadikan wanita gadis menjadi seorang wanita gadis  tulen, sama seperti Mama. Dengan rambut lurus seperempat melewati bahu yang terurai dihiasi jepitan rambut cerah sangat pas dengan gaun yang dikenakannya ditambah lagi dengan high heels yang tinggi, rasanya bukan Heren yang nampak di cermin. Sekitar pukul delapan belas berlalu tiga puluh lima menit. Mama mengajak Heren untuk menarik nafas  secara pelan-pelan melihat puterinya sangat tegang dan masukan-masukan lain untuk mencegah ketegangan nantinya. Sementara di bawah sana, Papa dan Jiyan melayani tamu.
“Ma, umur aku baru enam belas tahun...bukan berarti harus secepat ini,kan ma?”
Alis Mama melebar seketika menangkap maksud puterinya, “Jadi secepat itu kamu tangkap maksud semua ini...?” tanya Mama lembut angguk-angguk. Mama memperhatikan kedua bola mata Heren yang ingin membasah namun begitu kuat tertahan ditenggorokan. Heren menunduk,
“Maaf ma kalo heren akan memberontak”
Mama hanya mengangguk-angguk mendengar kesah puterinya, “Baiklah, nanti akan kita lihat”  dengan nada tegas. Tidak terasa hampir dua jam menghabiskan waktu berdua dalam melakukan banyak hal.

 Perlahan berjalan menurungi anak tangga tahap demi tahap dengan mengikuti petunjuk Mama  sambil menutup kedua mata Heren, sebagian tamu yang baru datang memasuki area ruang tamu menyoroti ratu belia yang dicari-cari para tamu undangan. Setelah sampai puncak akhir anak tangga bawah dan langsung diantar ke belakangkanya tempat acara akan dimulai, tepat di ruang masuk taman belakang sebuah gerbang tanpa pintu Mama melepas tangannya yang membentuk lingkaran di kepala Heren. Heren terkejut melihat sesuatu yang tidak disangka-sangkanya, bahkan jauh dari perkiraan kelirunya.
“Memangnya Mama sama Papa menganggap kamu ini apa, menjodoh-jodohkakn  anak sendiri dengan umur yang masih muda!” bisik Mama di kuping Heren. Heren tertawa kecil mengingat ucapannya di kamar tadi. Ia berbalik berhadapan dengan Mama dan memeluknya,
“Makasih banyak ma....”
“Em...sama Papa juga.”
Tidak lupa memeluk Papa dan Rafa yang datang mendekat, sambil mengucapkan ucapan selamat ulang tahun. Beberapa tamu yang berdekatan menyalami Heren...”Terimakasih.” Heren berjalan menuju ke puncak acara, ada kue ulang tahun berlapis dua, ada juga Jiyan bediri di samping meja tersebut.
“Hai....selamat ulang tahun. Ini” menyedorkan sebuah kado berukuran kecil.
“bagus yah, kunciin aku pintu?”
“Ok..., tapi kan sekarang sudah gak terkunci lagi, ni sudah ada berdiri malah.”
Heren membelalakan matanya dengan ekspresi bercanda ingin tersenyum, keduanya saling tersenyum dan memenuhi kehangatan layaknya saudara kandung.
“Maaf yah....”
Jawab Heren angguk, “Selamat ulang tahun”  sambil menyedorkan kado di hadapan Heren. “Makasih.”
Kini tiba saatnya acara yang dinanti-nantikan, semua teman-teman Heren menghadiri undangan resmi Heren yang dipublikan oleh Jiyan melali bisikan-bisikan kecil tanpa sepengetahuan Heren. Tidak hanya teman-teman kelas Heren yang hadir dalam pesta, pula banyak siswa-siswi lain yang mengenal Heren di sekolah dan semuanya itu tak lupa diundang oleh Jiyan. Hiasan yang sederhana menjadi sorak dan mencolok karena kehadiran teman-teman yang banyak dan keluarga-keluarga dari Mama-papa. Datangnya gelap menghiasi bumi tetap mencerahkan suasana malam di bawah bulan purnama, perlahan bumi berputar pada porosnya sepoian angin pelan-pelan menjadi terasa lembut mengitari kulit pelindung tubuh. Hangatnya tawa dan candaan berproses dalam aliran darah untuk tetap menghangatkan tubuh. Makin cerahnya hari yang  dinanti-nantikan tanpa perencanaan apapun oleh si pemilik hari ini. Jiyan berhasil membuat semuanya lebih menyenangkan sahabatnya, Semuanya terlihat sangat mengesankan.

            Saatnya acara akan dimulai, inilah yang dinanti-nantikan... kue tar yang dihiasi oleh dua buah lilin angka sau dan tujuh dinyalakan, saatnya tiup lilin dan semuanya menyanyikan lagu ‘tiup lilin’ namun sebelumnya dengan sadar,Heren mengharapkan sesutu sebelum mengawali kemeriahan umur yang bertambah. Lanjut untuk memotong kue ulang tahun, semuanya bernyani lagu ‘potong kue’ tetapi mata Heren mengitari semua orang yang berdiri mengelilinginya seolah sedang mencari seseorang. Heren tersadar dengan keberadaannya sekarang ia pun mendengar permintaan teman-teman untuk memotong kue, dan kue tersebut diberikan kepada Jiyan, Jiyan terkejut karena anggapannya pasti akan diberikan kepada kedua orang tua Heren. Heren sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah mengiriminya umat yang baik dan mendukungnya dalam segala hal berbau positif. Dan teristimewa lagi seorang sahabat yang dikenalnya baik melebihi saudara kandung sendiri, seperi seorang kakak sehingga Heren seolah sedang mersakan rasanya mempunyai seorang kakak. Heren dan Jiyan seumuran hanya beda beberapa bulan saja. Ulang tahun Jiyan sudah berlalu tahun ini, kelak umur panjang Heren pasti turut membantu merayakannya, sama seperti yang dilakukan Jiyan  malam ini. Di rerumputan hijau yang merata di atas tanah, setelah Heren menjadi bahan cucian mata, Papa mempersilakkan kerabat dan para tamu lainnya untuk berdansa dengan iringan lagu melankonik yang pastinya akan di sukai oleh muda-mudi juga. Meskipun tidak membawa   pasangan ke pesta, bukan berarti tidak berdansa doonk... perkenalan pun di mulai, para si jantan melakukan pengejaran terhadap lawannya yang masih  berdiri sendiri, masa bodoh bila si cewek sudah punya kekasih, kekasihnya kenapa tidak diajak? Akan terus perkenalan berlanjut atau hanya sekedar sebatas di panggung dansa saja itu urusan belakangan....
Semua yaang turut berparti merasakan kehangatan dan kesenangan wajah yang berseri, tetapi ada apa dengan Heren? Di tenga-tengah para tamu, jika terus dan makin lama diperhatikan kepala yang senor kanan kiri sambil berjalan di tengah-tengah keramaian sepertinya sedang mencari seseorang. Apakah Asdin? Lama Heren bolak-balik mencarinya berkeliling tetap tidak ada di tengah-tengah keramaian, sementara teman-teman Heren masih ada berdatangan dua-tiga orang, juga masih belum ada muncul. Kenapa Jiyan tidak mengundangnya? Ia melihat seorang laki-laki sedang berbincang dengan dengan rekan kerja Papa Heren, “Tapi tidak mungkin jika Jiyan tidak mengundangnya”  dalam benak Heren setelah melihat kakak kelasnya yang beda setingkat. Meskipun sudah pasti Asdin tidak mengenalnya, tapi setidknya ia datang karena Yuno datang. Acara sudah berlansung sekitar sejam, sudah tidak ada tamu yang datang, sudah pasti...ya, pasti tidak datang. Heren mulai nampak putus asa, dititik keramaian Heren menengada ke atas langit yang diterangi bulan purnama dan bintik-bintik yang berkedip-kedip yang banyaknya tak terhingga. Untungnya suasana malam tidak gelap seperti kegelapan wajah Heren, terangnya malam membantu membuatnya tesenyum menerima yang tidak pasti terjadi di hari miliknya.









Senin, 28 Mei 2012

catatn heren_confuse I...



CATHER
(Catatan Heren)
I
Confuse....
              “Cerah-cerah kayak gini...enaknya ngapain yah?” tanya seorang gadis pada dirinya  sepulang sekolah dalam kamarnya setelah melepas tasnya dari kedua bahunya. Setiba di rumah hatinya selalu merasa gelisah dan kedua telapak tangan beriringan sepuluh jarinya serasa dingin. Kebiasaan penghuni rumah disiang hari kurang lebih pukul dua belas tiga puluh ini adalah terlelap dalam tidur, begitu pula seisi komplex sudah jarang ada yang terlihat, suasana siang seperti ini terlihat bagitu tenangnya hanya saja cuaca yang panas. Hampir seluruh rumah di sekitar komplex bernawan rupa megah dilindungi pepohonan tinggi yang hijau muda cerah nampak rumah hijau terlihat elok dipandang. Namun ada salah satu rumah cukup mewah bertingkat dua di sekitarnya dipenuhi denga pepohonan hijau yang tinggu hampir setara atap rumahnya. Di atas lantai dua ada jendela kamar yang sedang terbuka, gadis yang bergelisah hati menampakkan wajah dan sebagian atas tubuhnya, pinggang hingga panggulnya tersembunyi oleh dinding jendela. Ia duduk begitu asyiknya sambil memikirkan sesuatu, wajahnya terlihat sayup sambil melambai-lambaikan kepalanya kiri ke kanan. Atau mungkin sedang berhayal...?
              Hari ini, ia  cepat pulang dari sekolah. Padahal jika siang hari sekitar pukul tiga belas atau pukul empat belas sudah berada di rumah, sudah pasti tempat tidur berukuran sedang warna pink itu menjadi tidak rapi lagi sampai pukul tujuh belas, jika tempat tidur itu terisi sekitar pukul empat belas. Dua atau tiga jam akan dihabiskannya beristirahat disiang hari...apa tidak berlebihan, belum lagi saat tidur malam kira-kira berapa lama waktu yang dibututhkan...? Diusia enam belasan maksimal waktu tidur yang dibutuhkan hanya tujuh sampai delapan jam. Sekarang baru setengah dua belas, rasa ngantuk masih jauh namun suasana komplex mulai akan kembali hening sama seperti malam hari. Yang ada di bawah hanya....Heren menunduk ke bawah, hanya  melihat seorang anak laki-laki sedang asyik bermain kelereng. Apa adiknya juga masih belum bisa beristirahat disiang hari...? Heren hanya tersenyum melihat  adiknya bermain tanpa teman bermain, kadang sekali-sekali Heren menemani adiknya bermain apa saja seperti bermain kelereng tapi paling sering bermain bulu tangkis bersama di taman kompelex tidak begitu jauh dari rumah, berolahraga bersama teman-teman dan siapa saja yang datang di taman saat sore hari, atau hanya sekedar duduk-duduk bersantai juga banyak. Bukannya Rafa, adik heren satu-satunya ini tidak punya teman hanya saja Rafa lebih senang bermain bersama kakak satu-satunya yang dimiliki dari pada bermain dengan orang lain, apalagi saat bermain bulu tangkis pasti lebih sering bermain bersama sang kakak.
              Tanpa  ada perubahan cuaca dari panas menjadi dingin, tiba-tiba leher Heren serasa merinding, ia meraba leher bagian belakangnya dengan pelan sambil berfikir ada apa dengan dirinya? Ia pun langsung ke tempat tidur untuk mencoba tidur. Tapi tetap saja belum bisa seperti ada yang sedang sangat mengganjal dibenaknya. Ia keluar  dari kamar sambil melirik kanan kiri, langkahnya pun dipelankan agar tidak ada bising yang terdengar. Selain Rafa, juga ada mbok Sufi pembantu di keluarga Heren dan Pak Bani istri mbok Sufi yang juga bekerja bersama istrinya dalam satu rumah. Dia bekerja apa saja yang bisa dikerja dalam rumah, sebagai sopir papa, bisa menjadi satpam di rumah, membersihkan halaman, atau apa saja yang  menurutnya bisa dikerja. Papa dan Mama sangat beruntung mempekerjakan mereka karena mereka berdua sangat baik dan sudah sanga menjadi kepercayaan dirumah, sehingga mereka dibuatkan rumah yang layak bersampingan dengan rumah. Walau demikian mereka kerap kali masih tinggal di rumah, orang di rumah lebih suka jika mereka tidak usah menginap di sebelah apalagi saat-saat seperti ini dimana Mama Papa sedang tidak ada di rumah. Papa keluar kota bersama Mama..Mama selalu menemani Papa setiap saat dalam menjalankan bisnisnya, seperti sekarang ini Papa ada pertemuan di luar kota dan Mama juga ikut. Bukannya Mama sok mengawasi tapi ini awal permintaan Papa juga karena kata Papa sih Lebih senang bila ada Mama supaya prasangka-prasangka buruk tetap menjauhi Mama. Apa mama orangnya cemburuan yah? Jauh sebelum ini, Mama baik-baik aja tuh, gak pernah terlihat ada wajah sinis atau banyak tanya mengenai urusan bisnis Papa. Mungkin Papa aja kali yah yang selalu butuh Mama....Perlahan langakah demi langkah dilaluinya untuk sampai ke lantai satu,heren menuju ke dapur, semua terlihat rapi mbok Sufi dan Pak Bani juga tidak ada, mungkin sedang dalam kamar beristirahat. Ia membuka pintu kulkas dan melihat isinya mulai yang paling teratas sampai ke bawah. Hampir persediaan isi kulkas kosong. Hanya ada beberapa biskuit berkemasan ukuran kecil. Diambilnya dua bungkus berjalan santai kembali ke kamar tidak seperti adegan seorang maling tadi. Sambil kembai ke posisi awal duduk di jendela dengan papan yang cukup lebar untuk bersantap cemilan. Sebungkus biskuit sudah dihabiskannya, ia mendengar bunyi mesin mobil yang lazim didengarnya kepalanya melihat ke bawah, ada pak Bani yang umurnya mulai lanjut sedang berlari pelan untuk membuka pintu gerbang rumah. Serta ada Rafa yang menyusul. Yah, itu mobil Papa Heren pun langsung bergegas turun menyambut orang tuanya. Rafa lebih dulu menghampiri orang tuanya dan memeluk Mama, sedang Heren menyambut Papa dengan salam dan pelukan manis orang tuanya. Mereka berempat saling berpasangan masuk ke dalam rumah, dan pak Bani memarkir mobil di tempat garasi biasanya. “bentar yah pa”  pamit Heren bergegas pergi ke kamarnya. Angguk Papa tersenyum. Belum cukup satu menit Heren pergi suara mesin mobil kembali berderuh keras. Heren melihat keluar dari jendela kamar, dalam mobil itu hanya Papa seorang diri “papa mau ke mana lagi...? baru saja pulang, sudah keluar lagi...?”  tanya Heren dalam benaknya. Heren bergegas ke bawah “tok-tok tok” dua kali Heren mengetuk pintu kamar orang tuanya, mendengar seruan-seruan suara ria, Heren membuka pintu kamar dan mendapati Rafa dan Mama sedang asyik bercanda di atas tempat tidur saat Heren nampak empat mata langsung menyorotnya. “papa mau ke mana, ma?”  mendengar wajah anaknya yang penuh serius bertanya, Mama hanya membalas dengan seutas senyum manis. “Rafa...Rafa.”  terdengar dari arah luar memanggil nama Rafa, Heren mencoba menegok tapi arah pintu keluar  tak nampak. Rafa bergegas turun dari atas tempat tidur mengahampiri suara yang telah memanggilnya. Dengan lambaian tangan kanan lembut dan senyum manis tanda mengajak putrinya masuk dan duduk di sampingnya menggantikan Rafa. Tanpa bertanya lagi, Heren lalu masuk dan menutup pintu kamar. Mulai akan mengambil posisi duduk nyaman bersama Mama,
“Itu, sedang ada urusan sebentar.”  Lembut Mama.
“Jadi keluar lagi?”  sambil sejenak Heren mengamati, “haa...”  rileks Heren. Alis Mama naik ke atas mengamati anaknya seolah bertanya ada apa. Heren tahu maksud ekspresi Mama, “memangnya Papa tidak merasa capek?” tanya Heren spontan. Mama berdiri dan turun dari atas tempat tidur mengambil tas yang diletakkan di sofa dekat jendela karena deringan sebuah handphonenya.
“Apa Papa tidak pernah merasa capek, sebentar keluar datang masuk rumah cuma sebentar trus keluar lagi, datang sebentar keluar lagi”  mengulang gebu emosi Heren, “apa seperti itu yang namanya pembisnis?”  perhatian Mama kembali tertuju pada putrinya setelah membaca sebuah pesan singkat. Lanjut Heren, “banyak kok pembisnis tidak seperti itu, kalau sudah menyelesaikan suatu urusan apalagi sudah keluar kota setidaknya waktu sudah pulang ke rumah yah, sudah ada di rumah istirahat.”  Dengan saksama Mama memperhatikan kalimat penjelas anaknya yang hampi tanpa titik koma. Lagi-lagi Mama hanya tersenyum dan kembali duduk ke posisi semula. Melihat ekspresi Mama, wajah Heren menjadi cemberut. Mama tahu maksud dan ekspresi anaknya, dan apa yang dirasakan putri semata wayangnya.
“ Tentu saja Papa sangat lelah, kata siapa Papa tidak lelah?”  respon Mama.
“Lalu?”  tangkis Heren.
“Yah...mau diapalagi. Namanya juga suatu pekerjaan.”
“Tapi apa harus berlebihan seperti ini?”  lagi-lagi penuh pertanyaan menghantui Heren setiap jawaban dari Mama.
“ Akan ada saatnya kamu mengerti...” perjelas Mama. Dengan pasang wajah jutek, Heren hanya mengangkat kedua bahunya seolah tidak menerima penjelasan Mama begitu saja. 
“Pokoknya, suatu hari nanti kamu pasti akan mengerti!” tambah Mama.
Tangkis heren, ”Kapan?”
Mendengar pertanyaan anaknya, Mama hanya tersenyum memandangi anaknya tanpa sepatah kata pun. Lagi-lagi Heren dibuat ngambek berpaling dari tatapan Mama dengan sikap Mama yang hanya memberi jawaban dengan sebuah senyum, dan hanya selalu sebuah senyum. Mama makin mendekatkan tatapanny ke arah wajah manis putrinya. Ada sesuatu yang aneh dari tatapan Mama yang juga dipenuhi senyam-senyum, perlahan Heren membalikan kepalanya ke wajah Mama.
“Ada apa...?  tanya Heren lirih.
Balas Mama dengan sebuah senyum centir. Sambil menggoyang-goyangkan kepala, wajah Mama nampak begitu riang dan berseri-seri. Alis Heren menjadi dengkur balas sorotan Mama.
“Boleh Mama tau, teman kencang putri Mama ini siapa?”
Wajah Heren menjadi berkerut setelah mendengar pertanyaan Mamanya. Kedua mulutnya terbuka benar-benar bingung kenapa tiba-tiba pikiran Mama ke arah situ!
“Kenapa...?” tanya Mama lembut.
Sanggah Heren, “Mama!”  Perasaan Heren sudah tidak nyaman lagi
“Boleh Mama tau nggak?”
Heren berhenti menatap Mama, “Gak ada kok Ma...” jawabnya serasa berat.
“Mmm...kalo kamu  yang respect...?”
“Ma-ma!”
“em...? Bagaimana yah orangnya...?”
Wajah heren serasa panas dan memerah dengan tatapan Mama yang centir, dengan sikap seolah malu-malu kucing Heren meninggalkan kamar orang tuanya. Untungnya Heren bukan  gadis yang suka keluyuran seperti remaja lainnya, justru sangat malas keluar rumah tanpa tujuan. Mengetahuai bagian kepribadian Heren yang baik, Mama Papa tiduk perlu begitu khawatir khususnya Mama bila harus meninggalkan rumah menemani suaminya karena Heren pun sebagai anak sulung cukup bisa diandalkan menjadi panutan untuk adiknya.  
            Dipagi hari, tanpa sadar Heren melewatkan waktu untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah waktu untuk bersantai sejenak sambil merapikan kamar tidurnya sendiri, waktu mandi yang santai justru diluangkan di pembaringan. Sinar matahari yang menyingsing jendela kamar, merusuk wajah Heren dan sebagian tubuhnya yang masih dilumuti selimut, sedikit merasakan sesuatu sedang merusuk wajahnya. “ha...a...a...”  menguap Heren sedikit mata terbuka bagian belahan pipinya tertutupi bantal. Tidak ada yang mengalahkan rasa ngantuk dalam lelapan malam menjelang dini hari kembali lagi. Perlahan membuka mata, belum pada hitungan ke dua matanya kembali tertutup lelap. Namun tusukan itu, serasa makin menempel di pipinya, kedua mata Heren langsung terbuka melotot, terbuka lebar-lebar segera bangun dari pembaringan dengan panik dan ketakutan. “ahhq...”  keluh Heren panik kebingunan berdiri melihat jendela kamarnya bertanya-tanya siapa yang telah membuka  horden jendela kamarnya. Ini pertama kalinya jendela kamarnya terbuka dengan bantuan orang lain setiap pagi hari selama menginjakkan kaki di dunia masa-masa SMA. Biasanya semua tanggung jawab kamar pribadi menjadi tugas sendirnya, ia akan bangun sekitar pukul lima lewat dan tak jarang membantu mbok Sufi menyiapkan sarapan pagi. Waktu tersisa satu jam digunakan mulai dari bersiap-siap, sarapan hingga sekitar tiga pulu menit di perjalanan untuk sampai ke sekolah. Akankah waktu sebanyak itu cukup? Heren turun dari atas tempat tidur melihat weckernya, pukul enam dua puluh menit“ternyata sudah sangat pagi!”  katanya dalam benak dengan wajah luwes berusaha mempergunakan waktu semaksimal mungkin. Setelah keluar dari kamar mandi, ia terperanga melihat kasur menjadi rapi kembali. Tidak ingin memikirkan berlarut-larut siapa dan siapa...sesegera mungkin ia mengenakan seragam sekolah. Biasa dan sederhana ciri khas penampilan Heren jadi tidak akan menghabiskan banyak waktu di depan cermin. Secepat mungkin ia melalui tangga demi anak tangga, di meja makan sudah ada Rafa menunggu untuk sarapan bersama sang kakak. Tangga yang tidak berada jauh dari meja makan, Heren menghampiri Rafa
“Kak, kita sarapan sama-sama”  ajak Rafa mulai menyiapkan santapannya.
“Mama mana?”
“Baru keluar, katanya cuma sebentar. Sedangkan Papa jam enam tadi sudah keluar duluan.” Jelas Rafa
Heren begitu ingin banyak tanya, Papa dan Mama berpakaian apa, apakah Rafa kira-kira tahu ke mana arah orang tua mereka sepagi ini, tapi waktu seminim seperti sekarang ini sangat tidak memungkinkan.
 “oh...kakak berangkat dulu”  pamit lalu membalikan diri.
Baru dua langkah, “kakak tidak sarapan?”  tanya Rafa.
 “kakak udah telat dek...maaf yah.”  Heren langsung bergegas pergi.
“hati-hati kak....”
Jawab Heren melambaikan tangan pada Rafa. Di luar Heren bergegas berjalan cepat hingga sampai di luar kompleks mencari sebuah taxi untuk lebih cepat. Di depan pagar rumah ada Pak Bani “naik ojek aja, Neng....” saran Pak Bani santun. Angguk Heren tersenyum menerima saran Pak Bani tidak peduli kendaraan apapun yang bisa digunakannya asalkan bisa mengantarnya ke tujuan dengan selamat. Namun sebuah taxi telah mengantar seorang penumpang tetangga Heren, bergegas Heren menghampiri dan menaikinya. Pak Bani hanya tersenyum melihat anak majikannya yang sangat dikenalnya baik dan polos. Sudah menunjukkan pukul tujuh lewat, dari kaca mobil sopir taxi sangat memperhatikan penumpangnya yang tidak tenang penuh gelisah.
“Maaf, neng begitu gelisah sekali...?”  tanya sopir santun lembut.
“ehq, oh...Pak bisa lebih cepat sedikit tidak, Pak?”
Jawab Pak sopir menundukkan kepalanya. Heren terdiam mengingat-ingat betul jam berapa ia tidur semalam, dalam ingatannya tetap menempel sebuah angka sembilan, ia tidur malam dipukul sembilan seperti biasanya.
“Pak, usahakan sebelum pukul tujuh dua puluh lima menit sudah harus tiba di sekolah, yah Pak!”
Pak sopir tersenyum jawabnya menundukkan kepala, “telat bangun, yah Neng...? begadang...?  tanya Pak sopir yang setengah baya mulai berceloteh.
“ehq? Enggak Pak, saya tidak pernah begadang kecuali kalo ada sesuatu yang sangat penting”  jawab Heren jelas, “Saya saja tidak tau kenapa bisa telat bagun. padahal semalam jam tidurnya seperti biasanya, jam sepuluh” tambah Heren. Pak sopir hanya tersenyum mendengar penjelasan penumpangnya.
            Sesuai permintaan penumpangnya, Heren tiba di sekolah pukul tujuh lewat dua puluh lima menit. Setelah membayar ongkos, Heren bergegas turun dan berlari memasuki pintu gerbang sebelum dikunci tepat pukul tujuh tiga puluh menit. Tersisa waktu lima menit bel sekolah tanda memulai pelajaran, Heren akhirnya tiba menampakkan sesosok orang yang sedang dikejar. Memasuki pintu gerbang mampir menghempaskan  nafasnya di ruang jaga satpam, satpam sekolah sedikit terkejut karena kedatangan Heren tiba-tiba yang kelelahan.
“Sisa berapa menit Pak bel bunyi?”  tanya Heren.
“Masih ada empat menit neng...” jawab Pak satpam yang berusia sekitar empat puluh lima ke atas.
“oh...”  Angguk Heren mendengarnya.
Heren sambil berjalan santai bersama keramaian banyaknya kaki di tengah-tengah lapangan hingga teras kelas, sedikit tersendak nafas batuk kecil. Setibanya di kelas sambil duduk menaruh tasnya, bel awal pelajaran pun dimulai. Dengan terdiam tenang, begitu seriusnya Heren mendengar bunyi bel melepas dahaganya hampir saja melanggar peraturan sekolah, salah satunya dalam poin ‘tidak  datang terlambat ke sekolah.’
            Beberapa menit kemudian, guru mata pelajaran pertama memasuki ruang kelas, pelajaran Bahasa Indonesia.
“Selamat pagi anak-anak”  Sapa Ibu Agustina sambil berjalan ke meja guru.
“pagi bu...”  Ceria  balas kelas dua ipa tiga.
Terasa  bernuansa cerah di kelas dua IPA tiga. Bagaimana tidak? Setelah libur satu minggu minggu dua hari yang lalu tanda menutup semester ganjil di kelas dua memasuki semester genap, kini masa-masa sedang menjalani semester genap lalu tidak terasa akan menjadi kakak kelas tertua, begitu cepatkah waktu berlalu begitu saja? Tiba saatnya bertemu kembali dengan Ibu Agustina yang bawaannya belajar terasa lepas, tidak menegangkan dan cukup santai saat membawakan materi dan saat berdiskusi bersama. Bukan berarti seolah bebas dalam hal belajar namun serius dan santai, itulah yang diterapkan Ibu Agus saat proses belajar mengajar dan berinteraksi dengan siswa-siswinya. Serius dan canda tidak pernah lepas dalam ruangan selama dua jam mata pelajaran berlangsung. Seragam putih abu-abu yang menghiasi tubuh begitu rapi dan cerah, di tambah hari yang sangat cerah, semuanya serba cerah di hari ini.
“Kita bertemu lagi yah...? Saya kira di semester dua ini bukan saya lagi yang akan mengajar di kelas ini. Ternyata...kembali lagi”  Pembuka celoteh Bu Agus mengakrabkan suasana.
“Sudah takdir bu...!” teriak seorang siswa di pojokan belakang. Bu Agus hanya tersenyum dan siswa lainnya turut tersenyum bahkan tertawa sang idola kembali bertemu.
Lanjut Bu Agus, “Untungnya saya tidak merasa bosan mengajar di kelas ini”  lalu membuka buku panduan. Semua siswa bersorak mendengar pengakuan dari guru favorit siswa di sekolah ini. Sebelum memulai materi yang sudah dibukanya, lagi-lagi Bu Agus  lanjut bercanda, “Bagaimana liburannya selama satu minggu?”  Tanya bu Agus tersenyum.
“wah...serasa pengen nambah Bu. Boleh tidak, Bu?”  Jawab seorang siswa masih dari pojok belakang
“boleh...Ibu juga masih ingin liburan. Kalau sudah ada tanggapan dari kepala sekolah, beritahu Ibu yah...!”  Balas Bu Agus lebih bercanda. Semua yang berada dalam ruangan tertawa lepas.